BINTASARA.com, MUARA TEWEH – Otomotif di Lapas Muara Teweh menjadi salah satu program unggulan pembinaan kemandirian yang terus dikembangkan, untuk membekali warga binaan dengan keterampilan kerja yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha.
Melalui pelatihan otomotif roda dua dan roda empat, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Muara Teweh berkomitmen mencetak sumber daya manusia yang produktif, mandiri, dan siap bersaing setelah kembali ke tengah masyarakat. Kegiatan tersebut berlangsung di bengkel kerja Lapas pada Rabu (08/07/2026).
Program ini menjadi bagian dari strategi pembinaan yang berorientasi pada peningkatan kompetensi teknis warga binaan. Lapas Muara Teweh tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan kepribadian, tetapi juga memperkuat pembinaan kemandirian melalui pelatihan berbasis keterampilan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Bertempat di bengkel kerja Lapas, para peserta mengikuti pelatihan secara langsung dengan didampingi instruktur profesional dan diawasi oleh jajaran Seksi Kegiatan Kerja (Giatja).
Metode pembelajaran yang diterapkan lebih banyak menitikberatkan pada praktik sehingga peserta dapat memahami setiap tahapan pekerjaan secara nyata.
Materi pelatihan meliputi perawatan berkala kendaraan (service rutin), pemeriksaan sistem kelistrikan, diagnosis kerusakan mesin, pembongkaran dan pemasangan komponen, hingga teknik perbaikan berbagai bagian penting pada sepeda motor maupun mobil.
Melalui praktik tersebut, warga binaan belajar mengenali penyebab kerusakan kendaraan sekaligus menentukan solusi perbaikannya secara tepat.
Selain meningkatkan kemampuan teknis, pelatihan ini juga melatih ketelitian, kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta membangun rasa percaya diri.
Berbagai keterampilan tersebut menjadi modal penting ketika mereka memasuki dunia kerja maupun membuka usaha secara mandiri setelah bebas nanti.
Optimalisasi Lapas Muara Teweh otomotif juga menjadi bentuk nyata dukungan terhadap program reintegrasi sosial yang diusung Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.
Dengan memiliki keterampilan mekanik yang memadai, warga binaan diharapkan mampu memperoleh pekerjaan yang layak, meningkatkan kesejahteraan keluarga, serta mengurangi risiko mengulangi tindak pidana.
Ke depan, bengkel kerja Lapas Muara Teweh diproyeksikan berkembang menjadi unit kerja produktif yang mampu memberikan layanan servis kendaraan bagi kebutuhan internal maupun masyarakat sekitar sesuai ketentuan yang berlaku.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjadi media pembelajaran sekaligus wadah bagi warga binaan untuk mengasah kemampuan sebelum kembali ke lingkungan sosial.
Kepala Lapas Muara Teweh melalui jajaran Seksi Kegiatan Kerja menegaskan bahwa pembinaan keterampilan otomotif akan terus ditingkatkan, baik dari sisi kualitas pelatihan, sarana praktik, maupun kompetensi instruktur.
Menurutnya, pembinaan kemandirian harus mampu menghasilkan lulusan yang benar-benar siap bekerja dan memiliki daya saing di bidang otomotif.
“Pelatihan otomotif motor dan mobil ini merupakan investasi masa depan bagi warga binaan. Kami tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan selama mereka berada di dalam Lapas, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan yang dapat menjadi profesi halal ketika kembali ke masyarakat. Kami berharap keahlian mekanik yang mereka miliki dapat menjadi modal untuk bekerja di bengkel, membuka usaha sendiri, serta membangun kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.
Melalui penguatan program Lapas Muara Teweh otomotif, Lapas Kelas IIB Muara Teweh terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembinaan yang berkualitas, produktif, dan berdampak nyata.
Program ini menjadi bukti bahwa proses pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada pembinaan selama menjalani pidana, tetapi juga mempersiapkan warga binaan menjadi individu yang mandiri, terampil, dan siap berkontribusi positif bagi masyarakat.



