BINTASARA.com , Kota Bekasi – Perawatan kendaraan Disdagperin 92,5 Milliar jadi perbincangan hangat dan menjadi sorotan Media karena nilai terlalu besar dan tidak masuk diakal. Lewat pemberitaan tersebut Kepala Disdagperin dan Disnaker, Ika Indah Yarti gercep klarifikasi supaya tidak menjadi bias di publik.
Dra. Ika Indah Yarti, MSi, selaku Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Bekasi memberikan klarifikasi resmi atas pemberitaan viral terkait dugaan rencana anggaran pemeliharaan kendaraan dinas senilai Rp92,5 miliar untuk Tahun Anggaran 2026.
Ika Indah yarti, tegaskan rencana anggaran pemeliharaan kendaraan Dinas hanya Rp92,5 Juta, Kelebihan nol akibat human error staf. Ia menegaskan, angka tersebut muncul akibat kesalahan input data entry oleh staf, dan telah dikoreksi kembali sesuai nilai yang sebenarnya, yakni Rp92,5 juta.
Lanjut, Ika menjelaskan bahwa dirinya baru mengetahui pemberitaan tersebut setelah menerima sejumlah panggilan dari redaksi media. Karena kesibukan dinas, respons baru dapat diberikan pada malam hari (08/01/26) setelah ia membaca pemberitaan yang beredar. Ia menyayangkan pemberitaan media yang langsung menaikkan beritanya, tanpa klarifikasi terlebih dulu.
“Ternyata staf saya memberitahukan bahwa itu adalah paket yang salah input data entry pada hari Rabu lalu. Angka yang seharusnya Rp92,5 juta, malah terinput menjadi Rp92,5 miliar karena kelebihan angka nol,” ujar Ika.
Tambah Ika menjelaskan bahwa data tersebut sempat terpantau publik via sistem e-purchasing secara daring, sebelum akhirnya diberitakan tanpa adanya konfirmasi langsung kepada dirinya sebagai pengguna anggaran.
“Bang Marlin, rekan media dari okegasnews mengecek e-purchasing pada hari Kamis lalu dan langsung menaikkan berita. Sementara saya sendiri belum tahu karena anggaran belum berjalan,” tambahnya.
Ika juga menyampaikan bahwa setelah dilakukan pengecekan internal, staf terkait telah melakukan koreksi data dan memastikan nilai anggaran kembali sesuai dengan perencanaan riil.
“Sekarang sudah dikoreksi kembali menjadi Rp92,5 juta. Ini murni human error karena terburu-buru dan kurang koreksi,” pungkasnya.
Redaksi

