Juli 15, 2026 10:43
Breaking News

Panen Raya Lele 100 Kilogram, Lapas Gunungsitoli Wujudkan Program Ketahanan Pangan

BINTASARA.com, GUNUNGSITOLI – Panen Raya Lele Lapas Gunungsitoli kembali membuktikan keberhasilan program pembinaan kemandirian warga binaan, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Gunungsitoli berhasil memanen sebanyak 100 kilogram ikan lele hasil budidaya warga binaan bersama petugas pembinaan pada Selasa (14/7/2026).

Keberhasilan ini menjadi implementasi nyata 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya pada sektor ketahanan pangan yang terus dikembangkan secara berkelanjutan di lingkungan pemasyarakatan.

Kegiatan panen raya tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Lapas Kelas IIB Gunungsitoli, Sahat Bangun, A.Md.IP., S.H., didampingi Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik dan Kegiatan Kerja (Kasi Binadik dan Giatja) Hiburan Loi, S.AP., Kepala Seksi Administrasi Keamanan dan Ketertiban (Kasi Adm. Kamtib) Fajariman Lase, S.H., Kepala Sub Seksi Giatja Helmi Supriadi Telaumbanua, S.H., beserta jajaran staf Giatja.

Baca Juga  Rutan Sidikalang Gandeng TNI Gelar Razia Gabungan Kamar Hunian

Kehadiran seluruh pejabat struktural menunjukkan komitmen kuat Lapas Gunungsitoli dalam mengawal keberhasilan program pembinaan berbasis keterampilan.

Selain melakukan pengawasan, jajaran petugas juga memberikan motivasi kepada warga binaan agar terus mengembangkan kemampuan budidaya perikanan sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat.

Program budidaya ikan lele di Lapas Gunungsitoli tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang memberikan pengalaman kerja secara langsung kepada warga binaan.

Mereka terlibat aktif dalam setiap tahapan budidaya, mulai dari menyiapkan kolam, menebar benih, melakukan pemeliharaan, mengatur pemberian pakan, menjaga kualitas air, hingga memanen ikan lele yang telah siap dipasarkan maupun dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan.

Melalui keterlibatan tersebut, warga binaan memperoleh pengetahuan praktis mengenai teknik budidaya perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Baca Juga  Kapolres Nias Selatan Siapkan Strategi untuk Mengurangi Resiko Kecelakaan Lalu Lintas Jelang Arus Mudik

Keterampilan ini diharapkan mampu membuka peluang usaha mandiri setelah mereka menyelesaikan masa pidana sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan mengurangi risiko pengulangan tindak pidana.

Keberhasilan memanen 100 kilogram ikan lele menjadi indikator bahwa program pembinaan yang dijalankan berlangsung secara efektif.

Hasil tersebut juga membuktikan bahwa pemanfaatan lahan dan sarana budidaya di dalam lapas mampu menghasilkan produk pangan yang berkualitas, sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan pangan di lingkungan pemasyarakatan.

Program ketahanan pangan yang dikembangkan Lapas Gunungsitoli merupakan bagian dari strategi pembinaan yang mengintegrasikan aspek edukasi, produktivitas, dan pemberdayaan warga binaan.

Pendekatan ini sejalan dengan arah kebijakan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan yang mendorong setiap Unit Pelaksana Teknis, untuk mengembangkan program pembinaan yang menghasilkan manfaat nyata bagi warga binaan maupun masyarakat.

Baca Juga  Karutan Humbang Hasundutan Apresiasi Pegawai Teladan dengan Memberikan Piagam Penghargaan

Kepala Lapas Gunungsitoli, Sahat Bangun, menegaskan bahwa kegiatan budidaya perikanan akan terus dikembangkan agar memberikan manfaat yang lebih luas.

Menurutnya, pembinaan yang berkelanjutan akan membentuk karakter warga binaan menjadi lebih disiplin, bertanggung jawab, produktif, dan memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah bebas.

Melalui Panen Raya Lele Lapas Gunungsitoli, jajaran Lapas Kelas IIB Gunungsitoli menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pelaksanaan 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Program pembinaan yang inovatif, produktif, dan berkelanjutan diharapkan mampu mencetak warga binaan yang mandiri, memiliki daya saing, serta siap memberikan kontribusi positif bagi pembangunan masyarakat dan ketahanan pangan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *