April 28, 2026 22:04
Breaking News

Menko PMK Tekankan Pentingnya Link-Match-Meaning, Pastikan Kerja Sama Vokasi-Industri Berdampak Nyata

Jakarta, Bintasara.com Menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto dalam penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi, pemerintah terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia guna mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka peluang kerja yang lebih luas bagi masyarakat.

Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menekankan pentingnya prinsip link, match, and meaning dalam pendidikan vokasi, agar kerja sama vokasi–industri tidak hanya relevan dengan kebutuhan pasar kerja, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat luas.

Hal tersebut disampaikan dalam Konferensi Tahunan Ketiga Aliansi Cina–Indonesia TVET Industri – Pendidikan (CITIEA) Tahun 2026 yang diselenggarakan di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada Senin (27/4/2026).

“Kita harus benar-benar menyiapkan SDM yang unggul, yang bukan hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja atau peluang baru dan manfaat bagi masyarakat. Inilah yang kita dorong link, match, and meaning,” ujar Menko PMK.

Baca Juga  Walkot Gusit Buka Kontes Burung Berkicau Meriahkan HUT ke-348 Kota Gunungsitoli

Menko PMK mengapresiasi penguatan kerja sama antara Indonesia dan Cina di bidang vokasi dan industri sebagai langkah strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul yang mampu menjawab tantangan disrupsi global. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan vokasi dan industri, baik di dalam negeri maupun dengan mitra internasional, menjadi kunci dalam meningkatkan relevansi keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.

“Kami pemerintah mengapresiasi atas kerja sama dari asosiasi pendidikan vokasi di Indonesia dengan pendidikan vokasi di Cina dan juga dengan perusahaan-perusahaan dari Cina dan Indonesia.,” imbuhnya.

Menko PMK juga menyoroti berbagai disrupsi global yang tengah dihadapi, mulai dari perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial, perubahan iklim, hingga dinamika geopolitik. Menurutnya, kondisi tersebut harus dimaknai sebagai peluang untuk mendorong inovasi dan kolaborasi yang lebih kuat antara dunia pendidikan dan industri.

Baca Juga  Menko PMK Pratikno Dorong PKG di Kantor, untuk Efisiensi dan Pencegahan Penyakit

“Disrupsi teknologi, perubahan iklim, dan juga geopolitik harus kita lihat bukan hanya sebagai tantangan, tetapi sebagai peluang bagaimana lembaga pendidikan tinggi bekerja sama dengan industri untuk menemukan solusi yang dihadapi masyarakat,” tegasnya.

Ia mencontohkan, dalam sektor pertanian, inovasi sangat dibutuhkan untuk menjaga produktivitas di tengah perubahan iklim yang tidak menentu. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial juga harus diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk membantu petani, nelayan, serta memperluas akses layanan pendidikan di daerah terpencil.

Dalam kesempatan tersebut, turut dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman antara politeknik negeri di Indonesia dan Cina untuk memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan akademik. Kerja sama ini mencakup pertukaran dosen dan mahasiswa, penelitian bersama, penyelenggaraan kegiatan ilmiah, serta program akademik dan budaya guna meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

Baca Juga  Expo SMK Hebat Jatim 2026 Dibuka, 269 SMK Unjuk Inovasi, SMKN 1 Jenangan Jadi Wakil Ponorogo

Turut hadir dalam agenda tersebut, Staf Khusus Mendiktisaintek Oki Earlivan Sampurno, perwakilan diplomatik Cina di Indonesia Chen Wu, Rektor Universitas Gadjah Mada Ova Emilia, Kepala Direktur Politeknik Indonesia Ahyar Muhammad Diah, Chair of CITIEA Qiu Fuming, Presiden Direktur Liugong Machinery Indonesia Levi Lin, serta Menteri Luar Negeri Periode 2001-2009 Hasan Wirajuda.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya