Kediri, BINTASARA.com — Setelah dikonfirmasi tim awak media perihal dugaan setoran penghasilan tenaga honorer yang mencuat di SMPN 1 Purwoasri, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Kepala SMPN 1 Purwoasri, Puguh Supratiknyo, diduga melakukan penekanan terhadap tenaga honorer setelah informasi mengenai setoran sebesar Rp300.000 tercium oleh awak media.
Kronologi Dugaan Penekanan
Berdasarkan informasi yang dihimpun tim BINTASARA.com, seorang tenaga honorer yang meminta identitasnya dirahasiakan, sebut saja Bang Satria mengaku dipanggil mendadak oleh Kepala SMPN 1 Purwoasri Puguh Supratiknyo, tak lama setelah wartawan melakukan konfirmasi ke sekolah pada Kamis (12/2/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Bang Satria menyebut Puguh mencecar seluruh tenaga honorer mengenai bocornya informasi setoran tersebut ke pihak luar.
“KS (Kepala Sekolah) menanyakan kenapa wartawan bisa tahu detail adanya setoran di SMPN 1 Purwoasri. Juga ditanya siapa yang membocorkan,” ungkap sumber tersebut.
Dalih Pengembalian Utang
Saat dikonfirmasi secara terpisah melalui sambungan telepon, Puguh Supratiknyo tidak membantah adanya pemanggilan terhadap tenaga honorer. Namun, ia berkilah bahwa pertemuan itu hanya sekadar klarifikasi.
Puguh membantah adanya pemotongan gaji secara sepihak. Ia berdalih bahwa uang Rp300.000 tersebut merupakan cicilan pengembalian utang yang dipinjam tenaga honorer saat dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) belum cair.
“Ternyata tidak dipotong. Itu pengembalian sebagian utang. Karena Januari BOS belum cair, belum ada gajian,” ujar Puguh, kepada tim awak media, pada Jum’at (13/2/2026).
Kejanggalan Nominal dan Sumber Dana
Keterangan Puguh justru memicu pertanyaan baru terkait transparansi pengelolaan dana di sekolah. Saat ditanya mengenai sumber uang pinjaman tersebut, Puguh memberikan jawaban yang kurang spesifik. Ia menyebut dana bisa berasal dari kantong pribadi kepala sekolah maupun koperasi.
“Ke uang kepala sekolah bisa, ke koperasi bisa, macam-macam. Di mana ada uang boleh dipinjamkan,” imbuhnya.
Kejanggalan semakin terlihat saat ia dimintai penjelasan mengapa seluruh tenaga honorer memiliki nominal “utang” yang seragam, yakni tepat Rp300.000. Terkait hal ini, Puguh mengaku tidak mengetahui secara mendetail.
“Kalau itu urusannya saya tidak tahu. Biasanya kalau belum gajian itu pinjam. Di semua sekolah memang pinjam kalau dana BOS belum cair,” klaimnya.
Kepala SMPN 1 Purwoasri Mendadak Tutup Telepon
Sikap defensif ditunjukkan Puguh saat terus dicecar mengenai dugaan intimidasi terhadap staf yang dianggap membocorkan informasi. Ia secara tiba-tiba memutus sambungan telepon saat pertanyaan tersebut diajukan berulang kali.
Upaya konfirmasi ulang sempat direspons singkat dengan alasan sedang dalam perjalanan, namun hingga berita ini ditayangkan, pihak sekolah belum memberikan penjelasan tambahan lebih lanjut.
Kasus ini kini menjadi sorotan publik. Ketidakjelasan mekanisme pinjam-meminjam serta keseragaman nominal potongan tersebut menimbulkan dugaan kuat adanya praktik yang tidak transparan dalam pengelolaan kesejahteraan tenaga honorer di SMPN 1 Purwoasri.



