BINTASARA.com, GUNUNGSITOLI – Pembinaan rohani warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Gunungsitoli, sebagai bagian dari proses pembinaan kepribadian.
Melalui penyuluhan agama Kristen, Penyuluh Agama Kristen dari Kementerian Agama Kabupaten Nias memberikan penguatan iman dan nilai-nilai spiritual kepada Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) beragama Nasrani di Gereja Oikumene Fa’omasi Lapas Kelas IIB Gunungsitoli, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan pembinaan rohani warga binaan tersebut memberikan ruang bagi WBP untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, memperkuat iman, serta membangun harapan selama menjalani masa pembinaan.
Penyuluh Agama Kristen mengajak para WBP memahami sekaligus menerapkan nilai-nilai kasih, pengampunan, kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui penyuluhan agama, Lapas Gunungsitoli tidak hanya mendorong WBP untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga membentuk karakter yang lebih baik.
Pendekatan spiritual menjadi salah satu bagian penting untuk membantu WBP melakukan introspeksi, mengevaluasi diri, dan membangun tekad untuk meninggalkan perilaku yang tidak baik.
Pembinaan Rohani Membentuk Karakter dan Mental WBP,
Pembinaan keagamaan juga memberikan dukungan mental dan spiritual kepada WBP selama menjalani masa pidana.
Dengan penguatan nilai-nilai agama, WBP diharapkan mampu menjalani proses pembinaan secara positif serta mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan setelah kembali kepada keluarga dan masyarakat.
Kepala Lapas Kelas IIB Gunungsitoli, Sahat Bangun, menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Agama Kabupaten Nias dalam pelaksanaan penyuluhan agama bagi WBP.
“Pembinaan keagamaan merupakan bagian penting dalam proses pemasyarakatan. Kami berharap melalui kegiatan ini, Warga Binaan semakin kuat dalam iman, mampu melakukan introspeksi diri, dan memiliki tekad untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Sahat Bangun menambahkan bahwa, proses pembinaan di Lapas harus mampu memberikan bekal yang bermanfaat bagi WBP.
Ketika kembali ke tengah masyarakat, WBP diharapkan dapat menjalani kehidupan secara bertanggung jawab dan memberikan kontribusi positif bagi keluarga maupun lingkungan sekitarnya.
“Ketika nantinya kembali ke masyarakat, mereka diharapkan dapat menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan memberikan kontribusi positif bagi keluarga maupun lingkungan,” sambungnya.
Para WBP beragama Nasrani mengikuti kegiatan penyuluhan dengan penuh khidmat dan antusias.
Suasana kegiatan berlangsung tertib dan memberikan kesempatan kepada WBP untuk mendapatkan penguatan spiritual secara langsung dari Penyuluh Agama Kristen.
Sinergi Lapas dan Kemenag Perkuat Pembinaan Keagamaan
Kehadiran Penyuluh Agama Kristen turut memperkuat pelaksanaan pembinaan rohani warga binaan di Lapas Gunungsitoli.
Pendampingan tersebut diharapkan mampu membantu WBP membangun mental yang lebih kuat, memperbaiki karakter, serta meningkatkan kesadaran untuk menjalani kehidupan dengan nilai-nilai positif.
Lapas Gunungsitoli terus mendorong agar proses pembinaan tidak hanya berorientasi pada kedisiplinan, tetapi juga menyentuh aspek kepribadian, mental, karakter, dan spiritual.
Pendekatan tersebut penting untuk mendukung tujuan pemasyarakatan dalam mempersiapkan WBP agar mampu kembali dan beradaptasi secara positif di tengah masyarakat.
Sinergi antara Lapas Kelas IIB Gunungsitoli dan Kementerian Agama Kabupaten Nias juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program pembinaan keagamaan.
Kolaborasi tersebut membuka ruang bagi WBP untuk mendapatkan pendampingan sesuai kebutuhan spiritual masing-masing.
Melalui pembinaan rohani warga binaan yang dilakukan secara berkelanjutan, Lapas Gunungsitoli berharap WBP dapat semakin memperkuat iman, memperbaiki diri, dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Bekal spiritual yang diperoleh selama menjalani pembinaan diharapkan menjadi fondasi bagi WBP untuk kembali kepada keluarga, menjalankan tanggung jawab, serta berkontribusi secara positif di tengah masyarakat.
Dengan semangat merajut harapan dan meneguhkan iman, pembinaan keagamaan di Lapas Gunungsitoli diharapkan terus menjadi bagian dari perjalanan perubahan WBP menuju pribadi yang lebih baik, bertanggung jawab, dan siap menjalani kehidupan baru setelah menyelesaikan masa pembinaan.



