Oktober 23, 2026 12:06
Breaking News

BNPB Ungkap Capaian Pemadaman Karhutla, 454 Hektare Berhasil Dipadamkan di Enam Provinsi

https://bintasara.com/Penanganan Karhutla 6 Provinsi

BINTASARA.com, PULANG PISAU— Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama kementerian/lembaga terkait, TNI, Polri, dan pemerintah daerah terus memperkuat penanganan Penanganan Karhutla 6 Provinsi di berbagai wilayah Indonesia.

Hingga 19 Oktober 2026, pemerintah memprioritaskan operasi penanganan karhutla di enam provinsi di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Berdasarkan data BNPB, tim gabungan menargetkan penanganan area seluas 1.024,33 hektare (ha). Tim telah memadamkan 454,25 ha, sementara 570,08 ha lainnya masih memerlukan pemadaman dan pendinginan.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa tim gabungan masih menghadapi tantangan dalam mengendalikan kebakaran, terutama di wilayah dengan area terdampak yang luas.

Penanganan Karhutla 6 Provinsi Sumatera Selatan Catat Pemadaman Terbesar

Berdasarkan data BNPB per 19 Oktober 2026, Sumatera Selatan mencatat luas pemadaman terbesar di antara enam provinsi prioritas. Tim gabungan telah memadamkan 293,17 ha dari target penanganan 401,67 ha, sedangkan 108,50 ha lainnya masih dalam penanganan.

Berikut rincian penanganan karhutla di enam provinsi prioritas:

  1. Kalimantan Tengah: Target 452,49 ha. Tim telah memadamkan 63,10 ha, sedangkan 389,39 ha masih dalam penanganan.
  2. Sumatera Selatan: Target 401,67 ha. Tim telah memadamkan 293,17 ha, sedangkan 108,50 ha masih dalam penanganan.
  3. Jambi: Target 96,50 ha. Tim telah memadamkan 32,00 ha, sedangkan 64,50 ha masih dalam penanganan.
  4. Kalimantan Selatan: Target 58,45 ha. Tim telah memadamkan 50,95 ha, sedangkan 7,50 ha masih dalam penanganan.
  5. Kalimantan Barat: Target 11,92 ha. Tim telah memadamkan 11,73 ha, sedangkan 0,19 ha masih dalam penanganan.
  6. Riau: Target 3,30 ha. Tim telah memadamkan seluruh area yang masuk dalam target penanganan.

Data tersebut menunjukkan bahwa Kalimantan Tengah masih memiliki area penanganan terbesar di antara enam provinsi prioritas, yakni 389,39 ha. Karena itu, pemerintah perlu terus mengoptimalkan pengerahan personel dan dukungan operasional di wilayah tersebut.

Awal Musim Hujan Diharapkan Bantu Pengendalian Karhutla

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan berlangsung secara bertahap di sejumlah provinsi prioritas.

Menurut prediksi tersebut, musim hujan mulai memasuki Riau sejak September. Sementara itu, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat diperkirakan memasuki awal musim hujan pada Oktober hingga November. Kalimantan Selatan diperkirakan menyusul pada November hingga Desember.

Kondisi tersebut berpotensi membantu mengurangi beban operasi pemadaman. Namun, pemerintah dan tim gabungan tetap perlu memantau kondisi lapangan serta melanjutkan pemadaman dan pendinginan di area yang masih mengalami kebakaran.

Karhutla di Provinsi Lain Masih Memerlukan Penanganan

Selain di enam provinsi prioritas, BNPB juga mencatat penanganan karhutla di sejumlah wilayah lain. Berdasarkan data dalam laporan, luas area terbakar diperkirakan mencapai 572,90 ha. Tim telah memadamkan sekitar 107,77 ha, sedangkan 465,13 ha lainnya masih dalam penanganan.

Di Kalimantan Timur dan wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN), luas area terbakar mencapai sekitar 97,77 ha. Tim telah memadamkan 95,77 ha dan masih menangani sekitar 2 ha di kawasan Pemaluan, IKN.

Di Jawa Tengah, kebakaran melanda kawasan lereng terjal dan curam di Kabupaten Karanganyar dengan luas sekitar 230 ha. Kondisi medan yang sulit dan angin yang berubah-ubah menghambat upaya pemadaman.

Sejumlah wilayah lain juga menghadapi karhutla dengan luasan yang beragam, antara lain:

  • Maluku Utara: sekitar 179,13 ha.
  • Taman Nasional Way Kambas, Lampung: sekitar 31 ha.
  • Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat: sekitar 20 ha. Tim telah memadamkan sekitar 10 ha dan masih menangani 10 ha di Desa Buana Sakti, Kecamatan Tommo.
  • Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara: sekitar 5 ha.
  • TPA Sumompo, Manado: sekitar 3 ha. Tim telah memadamkan sekitar 2 ha dan masih menangani 1 ha.
  • TPA Pasir Bajing, Garut, Jawa Barat: sekitar 4 ha.
  • Kabupaten Nabire, Papua Tengah: sekitar 3 ha.

Kondisi geografis, cuaca, dan akses menuju lokasi menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhitungkan tim dalam menentukan strategi pemadaman.

BNPB Uji Teknologi Dry Ice untuk Mengurai Asap

Selain mengerahkan personel dan armada pemadaman, pemerintah menguji teknologi modifikasi cuaca berbasis dry ice atau karbon dioksida padat untuk membantu mengurai penumpukan kabut asap dan meningkatkan jarak pandang.

Dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) ini, petugas menyemai dry ice dari pesawat pada lapisan inversi atmosfer di ketinggian 5.000–7.000 kaki. Material tersebut memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius.

Menurut penjelasan dalam laporan, pendinginan pada lapisan atmosfer diharapkan mengubah kondisi udara sehingga membantu mengangkat dan menyebarkan asap yang terperangkap di lapisan bawah. Efektivitas teknologi ini tetap memerlukan evaluasi berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran di lapangan.

Uji coba di sekitar Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, mulai menunjukkan peningkatan jarak pandang. Pada 16 Oktober 2026, petugas menyemai butiran dry ice berukuran sekitar 3 milimeter, kemudian membandingkan kondisi jarak pandang dengan kondisi pada 15 Oktober 2026.

BNPB, TNI, dan BMKG menjalankan operasi udara tersebut di Sumatera Selatan sejak 16 Oktober 2026 menggunakan pesawat Casa 212 dengan registrasi A-2117.

Pada 19 Oktober 2026, pemerintah juga memperluas operasi serupa ke Kalimantan Tengah dengan mengerahkan pesawat Casa 212-200/A-2107.

BNPB Perketat Prosedur Penyemaian Dry Ice

BNPB mengevaluasi standar operasional setelah menerima laporan masyarakat mengenai material dry ice yang jatuh di kawasan permukiman.

Sebagai langkah pengamanan, tim penerbangan memperketat prosedur penyemaian dengan memasang saringan khusus pada corong penabur. Petugas juga memecah dry ice menjadi butiran yang lebih halus sebelum menyemainya agar material lebih cepat menyublim di udara.

Evaluasi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan pelaksanaan operasi udara memperhatikan keselamatan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Pemerintah Kerahkan 49 Armada Udara dan Puluhan Ribu Personel

Penerapan teknologi dry ice melengkapi pengerahan 49 armada udara nasional untuk mendukung penanganan karhutla. Armada tersebut terdiri atas 32 unit untuk operasi pengeboman air atau water bombing dan 17 unit pesawat patroli serta operasi modifikasi cuaca.

Selain operasi udara, pemerintah memperkuat penanganan di enam provinsi prioritas dengan mengerahkan lebih dari 60 ribu personel gabungan melalui jalur darat.

Kombinasi operasi udara dan darat tersebut mendukung upaya pemadaman, pendinginan, pemantauan titik api, serta pencegahan perluasan area kebakaran.

BNPB Imbau Masyarakat Waspadai Dampak Asap

BNPB mengimbau masyarakat agar tetap menjaga kesehatan selama karhutla berlangsung. Masyarakat perlu menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk serta mengurangi paparan asap sesuai kondisi setempat.

BNPB juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan atau aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran.

Melalui koordinasi lintas sektor, pengerahan personel, dan pemanfaatan teknologi pendukung, pemerintah terus mendorong pengendalian karhutla di berbagai wilayah Indonesia. Upaya tersebut diharapkan dapat menekan luas area terbakar, mengurangi dampak asap, dan melindungi keselamatan masyarakat. Red

© 2026 PT Media Bintasara Design By BobRiva