Juli 17, 2026 10:08
Breaking News

Selain Keroncong dan String Bass, Warga Binaan Lapas Tahuna Juga Mahir Membuat Alat Musik Ini

BINTASARA.com, TAHUNA – Warga Binaan Lapas Tahuna kembali menunjukkan kreativitas dan kemampuan luar biasa melalui program pembinaan kemandirian, dengan berhasil memproduksi alat musik tradisional Kolintang.

Keberhasilan Warga Binaan Lapas Tahuna ini menjadi bukti nyata bahwa pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada pembentukan karakter, tetapi juga meningkatkan keterampilan produktif yang memiliki nilai ekonomi.

Hasil karya tersebut diharapkan mampu membuka peluang usaha sekaligus mendukung pengembangan UMKM sebagaimana menjadi salah satu program akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Kamis (16/7).

Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tahuna terus berkomitmen mengembangkan potensi setiap warga binaan melalui berbagai pelatihan keterampilan.

Setelah sebelumnya berhasil memproduksi alat musik keroncong dan string bass, kini para warga binaan kembali membuktikan kualitas hasil pembinaan dengan menciptakan alat musik tradisional Kolintang yang dibuat secara mandiri menggunakan keterampilan yang mereka pelajari selama menjalani masa pembinaan.

Kepala Lapas Kelas IIB Tahuna, Yosef Leonard Sihombing, secara langsung meninjau hasil karya tersebut sekaligus mencoba memainkan Kolintang buatan warga binaan.

Ia mengapresiasi dedikasi dan semangat para warga binaan yang terus mengembangkan kemampuan mereka hingga mampu menghasilkan produk berkualitas.

Baca Juga  Perkuat Toleransi, Warga Binaan Lapas Muara Teweh Gelar Ibadah Hindu Kaharingan

Menurut Yosef, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pembinaan kemandirian di Lapas Tahuna berjalan secara berkelanjutan dan menghasilkan karya nyata yang memiliki daya saing.

“Sebelumnya warga binaan telah berhasil membuat alat musik keroncong dan string bass. Kini melalui program pembinaan kemandirian mereka kembali menunjukkan kemampuan dengan menghasilkan alat musik Kolintang yang berkualitas,” ujarnya.

Yosef menegaskan bahwa seluruh hasil karya warga binaan tidak hanya menjadi media pembelajaran, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar.

Pihaknya akan terus memperluas pemasaran melalui kerja sama dengan berbagai mitra usaha di wilayah Kepulauan Sangihe sehingga produk hasil pembinaan dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa pengembangan usaha tersebut sejalan dengan Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam meningkatkan pemberdayaan UMKM dan membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah mereka kembali ke tengah masyarakat.

“Kami akan terus memberikan pembinaan dan edukasi keterampilan kepada warga binaan yang memiliki minat serta bakat dalam pembuatan alat musik. Harapannya, kemampuan ini menjadi bekal berharga untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti,” tambah Yosef.

Baca Juga  Dukung Ketahanan Pangan, Lapas Manado Berhasil Panen Daun Bawang

Sementara itu, Kepala Seksi Pembinaan Narapidana dan Kegiatan Kerja (Kasibinapi Giatja), Widodo, mengaku optimistis terhadap prospek hasil karya warga binaan.

Ia mengungkapkan bahwa Kolintang pertama yang diproduksi di Lapas Tahuna telah menarik perhatian masyarakat bahkan sudah dipesan oleh salah satu sekolah di Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Menurut Widodo, tingginya minat masyarakat menjadi motivasi bagi jajaran Lapas Tahuna untuk terus meningkatkan kualitas produksi.

Pihaknya berkomitmen menjaga mutu bahan baku, proses pengerjaan, hingga kualitas suara setiap alat musik yang dihasilkan agar mampu bersaing di pasaran.

“Kami sangat bersemangat mendukung seluruh potensi warga binaan. Pesanan pertama Kolintang dari salah satu sekolah menjadi bukti bahwa hasil karya mereka memiliki kualitas yang baik dan layak dipasarkan,” ungkapnya.

Salah seorang warga binaan berinisial YS mengaku bangga karena karya yang ia buat bersama rekan-rekannya mendapat apresiasi dari masyarakat. Ia tidak pernah membayangkan alat musik hasil kerja keras mereka mampu menarik minat pembeli.

Baca Juga  Warga Binaan Lapas Muara Teweh Khusyuk Sholat Jumat Berjamaah Bersama Petugas

“Saya merasa sangat senang karena alat musik yang kami buat ternyata disukai masyarakat. Semoga Kolintang buatan kami juga semakin banyak diminati seperti keroncong dan string bass,” tuturnya.

Program pembinaan kemandirian yang dijalankan Lapas Tahuna tidak hanya menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga membangun rasa percaya diri, tanggung jawab, serta semangat berkarya bagi warga binaan.

Melalui berbagai pelatihan produktif, mereka memperoleh kesempatan mengembangkan keterampilan yang dapat menjadi bekal saat kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Keberhasilan Warga Binaan Lapas Tahuna menciptakan alat musik Kolintang menjadi bukti bahwa pembinaan yang tepat mampu melahirkan sumber daya manusia yang produktif, kreatif, dan siap berkontribusi bagi pembangunan ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap hasil karya warga binaan diharapkan membuka pasar yang lebih luas sekaligus memperkuat citra positif pemasyarakatan sebagai tempat pembinaan menuju kehidupan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *