Mei 25, 2026 13:15
Breaking News

Pembubaran Gereja GMS Bantul Picu Isu Intoleran, Publik Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan Atasi Kelompok Intoleran

https://bintasara.com/Pembubaran Gereja GMS Bantul

BINTASARA.com, BANTUL JOGJAKARTA – Peristiwa Pembubaran Gereja GMS Bantul menjadi sorotan publik setelah sejumlah jemaat membubarkan diri secara paksa atas tindakan oknum intoleran yang meminta untuk menghentikan kegiatan ibadah saat sedang berlangsung, minggu 24/05.

Pububaran ibadah tersebut berlangsung di Gereja Misi Sejahtera yang berlokasi di Jalan Jogja Ring Road Selatan, Glugo, Panggungharjo, Sewon, mulai pukul 07.59 WIB hingga sekitar 09.05 WIB.

Aksi pebubaran Gereja GMS Bantul atas komando Abdurahman Abu Zaki alias Darohman dan 15 orang massa Laskar FJI ikut turut memaksa warga jemaat Gereja Misi Sejahtera (GMS) untuk bubar.

Peristiwa itu, terjadi ketika jemaat tengah melaksanakan ibadah rutin. Situasi yang semula berlangsung khusyuk mendadak berubah tegang setelah adanya pebuburan kegiatan keagamaan sekelompok pihak yang tidak bertanggung jawab.

Beberapa jemaat mengaku terkejut dan merasa tidak nyaman atas kejadian tersebut. Mereka menilai tindakan pembubaran ibadah tidak seharusnya terjadi di tengah kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi keberagaman dan toleransi antarumat beragama.

Baca Juga  Miris, Gaji Bervariasi Mulai dari Rp30 Ribu per Bulan, PPPK PW Sumut Menolak Menandatangani SPK

Jemaat Mengaku Sedang Beribadah Secara Damai

Jemaat Gereja GMS Bantul menyatakan bahwa kegiatan ibadah berlansung secara tertib dan damai tanpa gangguan. Mereka menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari hak konstitusional warga negara dalam menjalankan keyakinan dan ibadah.

Peristiwa pembubaran itu pun langsung menyebar di media sosial dan menuai berbagai tanggapan dari publik. Banyak pihak meminta aparat dan pemerintah daerah turun tangan untuk memastikan perlindungan terhadap kebebasan beribadah.

Sejumlah tokoh masyarakat dan pegiat hak asasi manusia juga menyampaikan keprihatinan atas kejadian tersebut. Mereka menilai tindakan pembubaran ibadah berpotensi mencederai nilai persatuan dan kebhinekaan yang selama ini sudah terjaga dengan baik.

Pembubaran Gereja GMS Bantul Tuai Sorotan Sorotan Berbagai Pihak, Termasuk Staf Khusus Menag

Kasus pembubaran Gereja GMS Bantul tuai komentar di Media Sosial @gugungumilar89 – Gugun Gumilar, M.A., Ph.D. Staf Khusus Menteri Agama (Menag) Bidang Kerukunan, Layanan Keagamaan, Pengawasan, dan Kerjasama Luar Negeri. Dalam komentarnya menyampaikan bahwa akan menemui pihak terkait serta atas nama pemerintah meminta maaf yang sebesar-besarnya.

Baca Juga  Waskita Karya Berhasil Rehabilitasi SPAM di Bener Meriah Aceh Usai Bencana, Berfungsi Penuhi Kebutuhan Air bagi 3.000 KK

“Terimakasih banyak Pak Pendeta. Kami beberapa hari ini akan ke Jogja. Kami akan menemui pihak terkait tas nama pemerintah meminta maaf yang sebesar-besarnya,” tulisnya pada komentar pada platfom intagram @davidherson_official.

https://bintasara.com/Pembubaran Gereja GMS Bantul
Pembubaran Gereja GMS Bantul

Banyak pihak berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi dan semua elemen masyarakat dapat menghormati hak setiap warga negara untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya.

Pengamat sosial menilai komunikasi antarpihak perlu mengedepankan persoalan damai agar tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas. Pemerintah daerah juga turun segera aktif membangun ruang mediasi demi menjaga kondusivitas wilayah.

Selain itu, berharap aparat keamanan juga dapat memberikan rasa aman kepada seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama maupun kelompok tertentu.

Baca Juga  Menteri Agama Larang ASN Kemenag Gunakan Kendaraan Dinas untuk Mudik Lebaran

Publik Desak Penanganan Khusus Dari Pemerintah Pusat

Publik menilai alasan massa Laskar FJI melakukan aksi tersebut tidak masuk logika kalau wilayah Padukuhan Glugo adalah mayoritas penghuni warga Muslim dan hampir tidak terdapat penduduk non-Muslim. Menurut mereka aktifitas pelaksaan ibadah tersebut merasa mengganggu kerukunan umat beragama serta harmonisasi sosial masyarakat setempat.

Hingga kini, peristiwa pembubaran ibadah Gereja GMS Bantul masih menjadi perhatian publik. Masyarakat berharap penyelesaian segera adanya langkah secara bijak, damai, dan mengedepankan prinsip hukum serta penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat penting bahwa toleransi dan kebebasan beragama merupakan fondasi utama dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman Indonesia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya