BINTASARA.com, BANTEN – Viral Video dan foto sel mewah napi narkoba diduga di Lapas Cilegon. Video berdurasi kurang lebih satu menit tersebut memperlihatkan berbagai aktisifitas warga binaan yang menggegerkan publik.
Dalam video yang beredar, tampak dua warga binaan pemasyarakatan tamapak santai meniduri kasur empuk, sementara seorang lainnya terlihat fokus memainkan ponsel dalam kamar tahanan yang memiliki fasilitas tidak wajar.
Publik menyoroti ukuran kamar sel yang terlihat luas dan jauh berbeda dari standar hunian lapas pada umumnya. Sejumlah fasilitas mewah juga tampak memenuhi ruangan, mulai dari tempat tidur nyaman, kasur tebal, AC standing, kipas angin hingga perlengkapan lain yang menyerupai fasilitas hotel berbintang.
Publik Menyoroti SOP Pelayanan
Dugaan sementara, kamar hunian super mewah tersebut berada di dalam Lapas Kelas IIA Cilegon, Banten. Kemunculan video itu memicu kekhawatiran masyarakat terhadap integritas institusi pemasyarakatan dalam menjalankan aturan dan pengawasan sesuai ketentuan yang berlaku.
Publik menilai keberadaan barang-barang terlarang dan fasilitas mewah di dalam sel tahanan sulit terjadi tanpa adanya kelonggaran dari pihak tertentu. Masyarakat juga menyoroti standar operasional prosedur (SOP) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan yang sebenarnya telah mengatur secara ketat pengawasan barang masuk ke lingkungan lapas.
Selain itu, muncul dugaan adanya unsur pembiaran atau kelonggaran dari oknum pejabat lapas terhadap narapidana tertentu. Dugaan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa para napi masih bisa mengendalikan peredaran narkoba maupun menjalankan aksi penipuan dari balik jeruji besi.
Masyarakat Mendesak Komisi XIII DPR RI Melakukan Investigasi
Masyarakat kini mendesak pemerintah pusat, termasuk Presiden RI dan Komisi XIII DPR RI, segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh untuk mengungkap fakta di balik video viral tersebut.
Publik berharap aparat penegak hukum dan pihak terkait dapat menindak tegas jika menemukan pelanggaran maupun penyalahgunaan wewenang di dalam lembaga pemasyarakatan.
Hingga berita ini turun, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai dugaan tersebut. Namun tekanan publik akan terus meningkat seiring dampak video viral tersebut.(EM)



