BINTASARA.com – Dampak bencana yang terjadi di Sumatra dan Aceh masih mengisahkan trauma mendalam bagi masyarakat khususnya Ono Niha yang kehilangan anggota keluarga maupun harta benda. Dasyatnya bencana yang menguncang dunia yang terjadi pada bulan November 2025 itu, membuat sejumlah infrakstruktur dan rumah hancur terpora-porandakan juga harta benda masyarakat setempat sirna terbawa banjir bandang serta tidak menyisakan satupun bagi keluarga untuk digunakan sebagai penunjang pemenuhan kebutuhan.

Peristiwa bencana tersebut berbagai elemen turut prihatin termasuk aksi peduli Ono Niha yang digagas oleh salah satu putra Ono Niha dari Kepulauan Nias beraksi ambil bagian untuk membantu meringankan beban bagi mereka yang terdampak bencana. Rinto Zebua, putra Ono Niha dari kepulauan Nias menceritakan tentang sulitnya menjangkau keluarga yang terdampak bencana akibat akses jalan yang ditempuh belum bisa dilewati kendaraan dalam menyalurkan bantuan. Namun Ia mengatakan kesulitan itu tidak membuatnya mundur semangat dalam menjangkau mereka yang membutuhkan bantuan.
Rinto Zebua sosok pemuda dari Kepulauan Nias yang tinggal di Kota Jakarta terpanggil dan datang melihat secara langsung tatapan sedih dan pilu terhadap dampak peristiwa banjir bandang yang dialami warga di Sibolga dan Tapteng. Rinto Zebua mengatakan pemberian bantuan murni sebagai bentuk rasa kepedulian terhadap sesama yang saat ini sedang mengalami kesulitan akibat dampak bencana.

“Kehadiran kami di tengah-tengah bapak-ibu hanya perpanjangan tangan oleh saudara dan teman kita yang di Jakarta untuk secara langsung mengunjungi keluarga kita disini khususnya Ono Niha, dalam memberikan bantuan untuk meringankan beban kebutuhan keluarga. Kedatangan kami murni sebagai bentuk rasa kepedulian dan keprihatinan sesama Ono Niha dalam memberikan semangat kepada keluarga terdampak bencana. Diharapkan, walaupun bantuan yang diberikan ini, nilainya tidak seberapa namun oleh ketulusan dan keikhlasan kami bisa berharap bisa meringankan beban keluarga saat ini” Ujar Rinto
Lanjut Rinto Zebua, mengatakan aksi peduli sosial yang Ia dan tim lakukan di Sibolga dan Tapteng cukup melelahkan karena medan yang dilewatkan sudah hancur parah dan jarak antar Desa lumayan jauh 2-3 jam perjalanan baru sampai dari satu Desa ke Desa yang lain.
“Kondisi medan tempuh sangat sulit dan terpaksa berjalan kaki saat melakukan perindistribusian bantuan kepada keluarga terdampak bencana, curah hujan yang sering turun memaksa untuk berjalan dan melewati sungai akibat jembatan terputus” Tandas Rinto Zebua

Tambah Rinto Zebua, sepanjang perjalanan yang dilewati mengingatkannya peristiwa bencana gempa di Nias tahun 2005, yang mengisahkan tangis dan penderitaan kelaparan dimana-mana. Ia berharap para korban bencana bisa melaluinya dengan tabah, sabar dan berdoa agar bencana ini tidak terulang Kembali. Dengan harapan Ia menghimbau semua elemen masyarakat khususnya Ono Niha dimanapun berada, apapun bantuan yang mampu diberikan kepada masyarakat yang terdampak bencana ini akan berdampak. Karena melalui uluran tangan saudara memberikan bermanfaat yang baik bagi mereka yang sedang membutuhkan saat ini.



