Mei 6, 2026 13:33
Breaking News

Warga Badiri Tapteng Minta Pemda Percepat Pembersihan Pascabanjir untuk Cegah Lonjakan DBD

BINTASARA.com, Tapanuli Tengah – Warga terdampak banjir di Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, mendesak pemerintah daerah segera mempercepat pembersihan lingkungan guna mencegah lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD) pascabanjir.

Permukiman yang baru surut dari genangan air dan lumpur kini dinilai berpotensi menjadi sarang berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penyebab DBD. Kondisi tersebut meningkatkan risiko penyebaran penyakit yang kerap muncul setelah bencana banjir.

Sejumlah warga di Lingkungan III, Kelurahan Lopian, mengungkapkan bahwa hingga kini tumpukan lumpur, sampah plastik, parit tersumbat, hingga kayu-kayu bekas banjir masih menumpuk di sekitar rumah dan saluran air. Bahkan, banjir susulan kerap terjadi saat hujan turun akibat aliran sungai yang belum pulih.

“Anak-anak sudah mulai demam. Kami khawatir kalau kondisi ini dibiarkan terlalu lama,” ujar salah satu warga.

Baca Juga  Hasilnya Masih Misterius? Disdik Kediri Janji Usut Dugaan Setoran Honorer di SMPN 1 Purwoasri

Warga mengaku telah melakukan gotong royong membersihkan rumah masing-masing. Namun, keterbatasan alat dan akses membuat pembersihan saluran air dan jalan lingkungan belum maksimal.

“Kami sudah bersihkan rumah, tapi selokan dan jalan masih penuh lumpur. Kalau 2-3 hari dibiarkan, jentik nyamuk pasti muncul. Kami harap petugas dan alat berat segera turun,” tambahnya.

Tiga Prioritas Desakan Warga

Warga meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat dalam 72 jam ke depan, dengan fokus pada:

Pengerukan lumpur dan pengangkutan sampah di jalan, selokan, serta area publik yang masih tergenang.

Penyemprotan larvasida dan distribusi bubuk abate ke rumah warga, khususnya pada penampungan air.

Penyediaan posko kesehatan keliling untuk pemeriksaan warga dan edukasi 3M Plus.

Baca Juga  Polres Nisel Rilis Capaian Kinerja, Kejahatan Konvensional Masih Dominan, Tingkat Penyelesaian Perkara Capai 56 Persen

Lingkungan Bersih Lebih Penting dari Fogging

Tokoh masyarakat setempat menegaskan bahwa pembersihan lingkungan merupakan langkah utama dalam mencegah DBD, bahkan lebih penting dibanding fogging massal.

“Kalau lingkungannya masih kotor, nyamuk akan terus kembali. Jadi yang utama adalah bersih-bersih,” ujarnya.

Warga berharap koordinasi lintas dinas dapat berjalan cepat agar proses pemulihan lingkungan segera selesai. Dukungan logistik dan alat berat dari pemerintah dinilai sangat penting untuk mempercepat penanganan.

Peringatan Tenaga Kesehatan: Masa Kritis 1–2 Minggu

Kepala puskesmas setempat, Imelda, mengingatkan bahwa kewaspadaan harus ditingkatkan karena periode rawan DBD biasanya terjadi 1–2 minggu setelah banjir.

Gejala yang perlu diwaspadai meliputi:

– Demam tinggi mendadak

– Sakit kepala

– Nyeri otot

Baca Juga  Bupati Nias Selatan Tanam Jagung Perdana di Lahan Ketahanan Pangan Desa Bawönahönö

– Mual

– Muncul bintik merah pada kulit

“Gejala biasanya muncul 4–10 hari setelah gigitan nyamuk. Jika mengalami tanda-tanda tersebut, segera ke puskesmas atau posko kesehatan,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa keterlambatan penanganan dapat menyebabkan dehidrasi hingga penurunan trombosit secara cepat.

Ancaman DBD Mengintai Pascabanjir

Meski banjir telah surut, ancaman DBD justru mulai meningkat. Petugas kesehatan akan melakukan fogging secara fokus di wilayah terdampak, namun upaya tersebut tidak akan efektif tanpa partisipasi aktif masyarakat dalam membersihkan lingkungan.

Warga diimbau tetap menjaga kebersihan, menerapkan 3M Plus, serta segera melapor jika ada anggota keluarga yang mengalami demam tinggi.

“Banjir boleh berlalu, tapi ancaman penyakit masih ada. Jangan sampai DBD menjadi bencana kedua,” tutup Imelda.

Pewarta: Amosi Zega

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya