Mei 2, 2026 14:13
Breaking News

Panen Raya 35 Daerah, Jateng Bidik 3,35 Juta Ton GKG dalam Tiga Bulan

KAB. SEMARANG|Bintasara.com -Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengawali panen raya padi serentak periode Januari–Maret 2026 di 35 kabupaten/kota dengan target produksi 3,35 juta ton gabah kering giling (GKG). Kegiatan dipusatkan di Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, dan dipimpin langsung Gubernur Ahmad Luthfi, Jumat (20/2/2026).

Berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, potensi produksi pada triwulan pertama 2026 diperkirakan mencapai 3,35 juta ton GKG. Angka tersebut meningkat 413.698 ton atau sekitar 14 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.

Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan, arah kebijakan pembangunan pertanian tahun 2026 difokuskan pada penguatan swasembada pangan. Sepanjang Januari–Desember 2026, luas tanam ditargetkan mencapai 2,38 juta hektare. Hingga 18 Februari 2026, realisasi tanam tercatat 216.098 hektare.

Baca Juga  Perkuat Hubungan Pertahanan, Panglima TNI Terima Kunjungan Pangab India

“Tahun 2025 kita berkontribusi 15 persen terhadap produksi nasional. Tahun 2026 harus lebih meningkat. Jawa Tengah harus menjadi penopang utama ketahanan pangan nasional,” tegas Ahmad Luthfi usai panen raya, didampingi Bupati Semarang dan Kepala Perum Bulog Jawa Tengah.

Secara tahunan, produksi GKG Jawa Tengah ditargetkan menembus 10,55 juta ton pada 2026 atau naik 12,22 persen dibanding realisasi 2025 sebesar 9,3 juta ton.

Untuk mengejar target tersebut, Gubernur menginstruksikan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, memperkuat konektivitas dengan 35 pemerintah kabupaten/kota. Fokusnya meliputi perlindungan lahan pertanian, percepatan mekanisasi, hingga pendampingan gabungan kelompok tani (gapoktan) dari tahap pembibitan sampai pascapanen.

Baca Juga  Proses Hukum Tindak Pidana Penganiayaan Juwita H.W. Waruwu di Polres Nias, Yustina Gulo Berharap Diduga Pelaku di Tetapkan Tersangka

“Mempertahankan lahan produktif dan mempercepat mekanisasi menjadi kunci. Kita tidak boleh kehilangan momentum tanam,” ujarnya.

Pada momentum panen raya ini, Pemprov Jateng juga memperkenalkan sistem mekanisasi terintegrasi yang disebut “sistem sepur”. Skema ini memungkinkan proses panen, pengolahan tanah, hingga tanam ulang berjalan berurutan dalam satu rangkaian kerja.

Defransisco Dasilva menjelaskan, bagian depan menggunakan combine harvester untuk memanen padi. Dua hingga tiga meter di belakangnya, mesin pengolah tanah langsung bekerja, disertai drone penyemprot dekomposer untuk mempercepat penguraian jerami. Setelah lahan siap, mesin rice transplanter melakukan penanaman kembali.

“Berurutan seperti sepur atau kereta. Panen, olah tanah, dan tanam berjalan hampir bersamaan. Ini menghemat waktu hingga sekitar 90 persen dibanding cara manual,” jelas Tavares.

Baca Juga  Wali Kota Gusit Gelar Peringatan Hari Jadi ke-348 Tahun 2026

Untuk lahan dua hektare, seluruh rangkaian pekerjaan dapat diselesaikan dalam satu hari. Dengan metode manual, proses serupa bisa memakan waktu hingga 10 hari.

Uji ubinan di lokasi panen menunjukkan hasil rata-rata setara 6 ton per hektare, dengan potensi produktivitas optimal mencapai 9,6 ton per hektare, tergantung kondisi irigasi, pemupukan, dan kualitas benih.

Selain mekanisasi, Pemprov juga memperkuat koordinasi rehabilitasi dan optimalisasi jaringan irigasi bersama jajaran TNI di wilayah Kodam IV/Diponegoro guna menjaga kesinambungan produksi.

Dengan kombinasi perluasan areal tanam, penguatan irigasi, dan inovasi mekanisasi melalui sistem sepur, Jawa Tengah menargetkan peningkatan signifikan kontribusi terhadap produksi beras nasional sekaligus memperkokoh fondasi swasembada pangan pada 2026. (AG)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya