BINTASARA.com, LEMBANG — Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan ketahanan energi Indonesia menjadi salah satu fondasi utama untuk mewujudkan target Indonesia sebagai negara maju dalam 20 tahun mendatang.
Bima menyampaikan hal tersebut saat memberikan kuliah umum dalam acara Studium Generale Perwira Siswa Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Sesko AU) Angkatan 65 di Gedung Widya Mandala I, Sesko AU, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (30/9/2026).
Menurut Bima, Indonesia saat ini berada pada fase strategis yang menentukan arah pembangunan dalam beberapa dekade ke depan. Sejumlah lembaga internasional, kata dia, memproyeksikan Indonesia berpotensi masuk jajaran lima kekuatan ekonomi terbesar dunia dalam 20 tahun mendatang.
Namun, Bima mengingatkan bahwa peluang tersebut membutuhkan kemampuan Indonesia membangun kemandirian nasional.
“Tidak ada negara yang bisa meloncat dari negara menengah ke maju tanpa membangun kemandirian negara,” tegas Bima.
Ketahanan Energi Hadapi Ancaman Geopolitik
Bima menjelaskan, kemandirian nasional mencakup berbagai sektor, salah satunya energi. Ketergantungan terhadap energi dapat memengaruhi ketahanan negara, terutama ketika dinamika geopolitik global semakin kompleks.
Menurutnya, bentuk ancaman terhadap negara juga terus berkembang. Ancaman tidak hanya muncul dalam bentuk konvensional, tetapi merambah ke sektor siber, informasi, hingga energi.
Energi, lanjut Bima, kini menjadi fondasi hampir seluruh aktivitas kehidupan dan pembangunan. Pelayanan publik, industri, transportasi, fasilitas kesehatan, sistem pertahanan, hingga infrastruktur digital membutuhkan pasokan energi yang andal.
Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan ketahanan energi dengan memperhatikan ketersediaan sumber energi baru dan terbarukan (EBT), kemampuan teknologi, serta kesiapan masyarakat dalam menghadapi perubahan pola konsumsi energi.
Pemda Jadi Garda Depan Ketahanan Energi
Bima juga menyoroti peran strategis pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Setiap daerah memiliki karakteristik dan potensi energi yang berbeda sehingga pemerintah daerah perlu mampu memetakan seluruh sumber daya yang dimiliki.
Pemetaan tersebut mencakup potensi energi, kapasitas fiskal, sumber daya manusia, infrastruktur, hingga sumber daya alam.
“Daerah ini penting. Mereka ini sekarang adalah frontliners, ada di garis depan untuk ketahanan energi,” ujar Bima.
Menurut Bima, kemampuan daerah dalam mengidentifikasi potensi dan mengembangkan sumber energi secara tepat dapat mendukung agenda kemandirian energi nasional.
Tiga Strategi Pemerintah
Dalam paparannya, Bima menyampaikan tiga strategi yang tengah didorong pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi.
Pertama, mempercepat transisi energi dengan mengembangkan sumber energi baru dan terbarukan. Kedua, memperkuat cadangan sekaligus melakukan versifikasi energi nasional. Ketiga, mentransformasi pola konsumsi energi melalui elektrifikasi dan peningkatan efisiensi energi.
Bima menilai ketiga strategi tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Sampah Bogor Jadi Contoh Energi Alternatif
Bima kemudian mencontohkan pengembangan pengolahan sampah menjadi energi listrik di Bogor. Menurutnya, wilayah kota dan kabupaten tersebut menghasilkan sekitar 4.000 ton sampah setiap hari.
Sebagian dari volume sampah tersebut dapat diolah menjadi energi listrik sehingga memberikan manfaat ganda. Selain mengurangi persoalan penumpukan sampah, pengolahan tersebut juga membuka peluang pemanfaatan sumber energi alternatif.
Bima menyebut pengembangan energi dari sampah sebagai salah satu terobosan dalam menjawab persoalan lingkungan sekaligus mendukung versifikasi sumber energi.
Pemerintah, kata dia, menargetkan volume sampah yang menumpuk dapat terus berkurang dalam beberapa tahun ke depan seiring dengan peningkatan pemanfaatan energi baru.
Perwira Siswa Diminta Pahami Ketahanan Nasional
Bima berharap para Perwira Siswa Sesko AU memahami hubungan erat antara ketahanan energi, pembangunan daerah, dan ketahanan nasional.
Pemahaman tersebut penting bagi calon pemimpin agar mampu membaca potensi setiap daerah dan membangun kolaborasi dalam menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks.
Bima menilai ketahanan energi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan bakar atau listrik, tetapi juga menyangkut kemampuan negara mengelola sumber daya, mengembangkan teknologi, memperkuat infrastruktur, serta memastikan masyarakat mampu beradaptasi dengan perubahan.
Dengan pendekatan tersebut, penguatan ketahanan energi Indonesia harapan dapat berjalan seiring dengan agenda pembangunan nasional dan upaya mewujudkan kemandirian menuju negara maju. Red

