BINTASARA.com, GUNUNGSITOLI – Pengajian menjadi salah satu upaya Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Gunungsitoli dalam memperkuat pembinaan kepribadian dan kerohanian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Kegiatan tersebut berlangsung pada 24 September 2026 dan diikuti oleh 61 WBP beragama Islam dalam suasana penuh khidmat dan kekeluargaan.
Lapas Gunungsitoli menggelar pengajian dan silaturahmi tersebut dengan melibatkan sejumlah elemen masyarakat.
Ketua Berkah Foundation, H. Ali Cut Prawiro, jajaran DPD BKPRMI Gunungsitoli, Ketua PCNU Kota Gunungsitoli As Ari Polem, Ka.KPLP Makhriza, serta petugas Lapas turut menghadiri kegiatan tersebut.
Kegiatan diawali dengan pelaksanaan Sholat Isya berjamaah di Musholla Lapas Gunungsitoli.
Setelah itu, para peserta mengikuti tausiyah yang disampaikan Ustadz Imam Akbar.
Melalui ceramahnya, Ustadz Imam Akbar mengajak WBP untuk terus meningkatkan keimanan, memperbanyak ibadah, dan memperkuat ketakwaan selama menjalani masa pembinaan.
Ustadz Imam Akbar juga mengingatkan para WBP, agar memanfaatkan masa pembinaan sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri.
Menurutnya, proses pembinaan tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan selama menjalani pidana, tetapi juga mendorong perubahan sikap dan perilaku agar WBP mampu mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat.
Pesan tersebut mendapat penguatan dari H. Ali Cut Prawiro. Ia mengajak WBP untuk menggunakan waktu pembinaan secara positif dan mulai menata masa depan sejak berada di dalam Lapas.
Dukungan moral dan pembinaan keagamaan diharapkan dapat membantu WBP membangun semangat untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana.
Sementara itu, Ka.KPLP Makhriza menyampaikan apresiasi atas dukungan dan sinergi yang diberikan berbagai pihak dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, kolaborasi antara Lapas dan elemen masyarakat memiliki peran penting dalam mendukung pelaksanaan program pembinaan, khususnya pembinaan kepribadian dan kerohanian bagi WBP.
Rangkaian pengajian WBP Lapas Gunungsitoli semakin bermakna dengan penyerahan cinderamata berupa perangkat sholat untuk Musholla Lapas.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan jamuan makan malam bersama yang menciptakan suasana hangat, akrab, dan penuh kebersamaan antara WBP, petugas, serta para tamu undangan.
Melalui kegiatan ini, Lapas Kelas IIB Gunungsitoli terus memperkuat pembinaan kepribadian dengan melibatkan dukungan berbagai unsur masyarakat.
Sinergi tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pembinaan yang positif, humanis, dan mendorong WBP untuk terus memperbaiki diri.
Kegiatan pengajian juga menjadi momentum untuk membangun hubungan yang lebih dekat antara WBP dan masyarakat.
Kehadiran berbagai elemen masyarakat menunjukkan bahwa proses pembinaan membutuhkan dukungan bersama agar WBP memiliki bekal spiritual, mental, dan sosial ketika kembali menjalani kehidupan di lingkungan masyarakat.
Lapas Gunungsitoli menegaskan bahwa pemasyarakatan tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan selama WBP menjalani masa pidana.
Melalui berbagai program yang positif, Lapas juga mendorong WBP untuk membangun karakter, meningkatkan kesadaran diri, serta mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah bebas.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan aman, tertib, lancar, dan kondusif.
Lapas Gunungsitoli berharap dukungan masyarakat terhadap proses pembinaan terus berkembang sehingga stigma negatif terhadap warga binaan dapat berkurang.
Dengan dukungan berbagai pihak, WBP diharapkan mampu menjalani proses pembinaan dengan sungguh-sungguh dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk memperbaiki diri.
Setelah kembali ke masyarakat, mereka diharapkan dapat menata kehidupan secara mandiri, percaya diri, serta berkontribusi secara positif bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.

