BINTASARA.com, GUNUNGSITOLI – Pembinaan kerohanian WBP Lapas Gunungsitoli kembali berlangsung melalui kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) beragama Kristen di Gereja Oikumene Fa’omasi, Jumat (26/9/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Gunungsitoli dalam memperkuat keimanan sekaligus membentuk karakter WBP selama menjalani masa pembinaan.
Lapas Gunungsitoli melaksanakan kegiatan tersebut melalui kerja sama dengan Gereja BNKP Jemaat Kota Gunungsitoli. Pdt. Gustaf Gabriel Harefa, S.Th., M.Th., memimpin langsung rangkaian KKR dan menyampaikan pesan-pesan rohani kepada para WBP.
Kasubsi Registrasi Natal Fisman Zebua bersama jajaran petugas Lapas turut mendampingi kegiatan hingga selesai.
Para WBP mengikuti KKR dengan penuh antusias. Suasana ibadah berlangsung tertib, khidmat, dan penuh kekeluargaan.
Melalui kegiatan tersebut, para WBP mendapatkan kesempatan untuk melakukan refleksi diri sekaligus memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan.
Dalam khotbahnya, Pdt. Gustaf Gabriel Harefa mengajak seluruh WBP menjadikan masa pidana sebagai kesempatan untuk melakukan perubahan positif.
Ia mendorong para WBP untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, meninggalkan perilaku yang menyimpang, serta membangun kehidupan yang lebih baik.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam pembinaan kerohanian WBP Lapas Gunungsitoli, karena proses pembinaan tidak hanya berfokus pada aspek kedisiplinan, tetapi juga menyentuh pembentukan kepribadian dan mental.
Melalui program pembinaan keagamaan, Lapas Gunungsitoli terus mendorong WBP meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
Pembinaan tersebut juga diarahkan untuk membentuk karakter yang bertanggung jawab, disiplin, serta memiliki kepedulian terhadap sesama.
Kepala Lapas Kelas IIB Gunungsitoli, Sahat Bangun, menyampaikan apresiasi kepada Gereja BNKP Jemaat Kota Gunungsitoli yang telah mendukung pelaksanaan pelayanan rohani bagi WBP.
Menurutnya, kegiatan KKR tidak seharusnya hanya menjadi agenda rutin.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu mendorong WBP melakukan introspeksi dan membangun komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik, baik selama menjalani masa pembinaan maupun setelah kembali ke tengah masyarakat.
“Melalui pembinaan kerohanian, kami berharap WBP semakin memiliki keteguhan iman dan mampu menjadikan masa pembinaan sebagai momentum untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Sahat Bangun.
Rangkaian kegiatan berlangsung aman dan kondusif. Para peserta kemudian mengikuti doa bersama sebagai penutup kegiatan.
Lapas Gunungsitoli juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada pihak Gereja BNKP Jemaat Kota Gunungsitoli atas sinergi yang terjalin dalam memberikan pelayanan rohani kepada WBP.
Pembinaan kerohanian WBP Lapas Gunungsitoli menjadi salah satu bentuk pembinaan kepribadian yang memberikan ruang bagi WBP untuk memperkuat nilai spiritual, membangun kesadaran diri, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah bebas.
Publikasi kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari keterbukaan informasi mengenai proses pembinaan di dalam Lapas.
Masyarakat dapat melihat bahwa Lapas Kelas IIB Gunungsitoli tidak hanya menjalankan fungsi pengamanan dan pelaksanaan pidana, tetapi juga memberikan pembinaan yang mendukung perubahan perilaku dan pembentukan karakter WBP.
Melalui pembinaan yang berkelanjutan, Lapas Gunungsitoli berharap para WBP mampu kembali ke keluarga dan lingkungan sosial dengan membawa perubahan positif.
Dukungan masyarakat juga menjadi bagian penting agar mereka dapat menjalani kehidupan secara bertanggung jawab dan kembali berkontribusi secara positif setelah menyelesaikan masa pembinaan.

