BINTASARA.com, MUARA TEWEH – Bimbingan kemandirian otomotif menjadi salah satu upaya Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Muara Teweh dalam membekali Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dengan keterampilan praktis yang dapat dimanfaatkan setelah menjalani masa pidana.
Melalui pelatihan perbaikan dan servis mobil, Lapas Muara Teweh terus memperkuat program pembinaan kemandirian sebagai bekal menuju reintegrasi sosial. Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin, 05 Oktober 2026.
Jajaran pembinaan kemandirian Lapas Muara Teweh memberikan pelatihan vokasional bidang otomotif kepada warga binaan melalui kegiatan praktik perbaikan dan servis kendaraan roda empat.
Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan teknis WBP sekaligus menumbuhkan sikap disiplin, teliti, bertanggung jawab, dan mandiri dalam menyelesaikan pekerjaan.
Dalam pelaksanaannya, petugas pembinaan bersama instruktur berpengalaman memberikan materi secara bertahap.
Warga binaan tidak hanya mempelajari teori dasar otomotif, tetapi juga langsung mempraktikkan teknik pemeriksaan dan perbaikan kendaraan.
Pendekatan tersebut membuat peserta lebih mudah memahami fungsi setiap komponen serta cara menangani gangguan kendaraan secara tepat.
Para warga binaan mempelajari berbagai aspek teknis kendaraan roda empat.
Materi pelatihan mencakup pengenalan komponen mesin, pemeriksaan kondisi kendaraan, teknik mendeteksi kerusakan ringan, perawatan berkala, serta prosedur dasar perbaikan mesin dan sistem kelistrikan mobil.
Melalui bimbingan kemandirian otomotif, warga binaan juga belajar mengenali penyebab kerusakan sebelum melakukan tindakan perbaikan.
Instruktur mengarahkan peserta agar menerapkan prosedur kerja secara aman, sistematis, dan sesuai dengan kondisi kendaraan.
Praktik tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketelitian sekaligus membentuk kebiasaan kerja yang profesional.
Antusiasme warga binaan terlihat selama mengikuti kegiatan. Mereka aktif mengikuti arahan instruktur, mempraktikkan materi yang diberikan, serta berusaha memahami setiap tahapan perawatan dan perbaikan kendaraan.
Kegiatan praktik secara langsung memberikan pengalaman yang lebih konkret sehingga peserta memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan teknis.
Kepala Lapas Kelas IIB Muara Teweh melalui jajaran pembinaan menegaskan bahwa program pembinaan kemandirian merupakan bagian penting dalam mempersiapkan WBP menghadapi kehidupan setelah bebas.
Keterampilan yang diperoleh selama menjalani pembinaan diharapkan dapat menjadi modal untuk mencari pekerjaan, mengembangkan usaha secara mandiri, maupun beradaptasi dengan kebutuhan dunia kerja.
Selain meningkatkan keterampilan, pelatihan otomotif juga mendorong warga binaan untuk membangun pola pikir produktif.
Mereka diarahkan agar mampu memanfaatkan waktu selama berada di Lapas untuk mempelajari kemampuan baru yang memiliki nilai guna dan peluang ekonomi.
Program tersebut sekaligus menjadi bentuk komitmen Lapas Muara Teweh dalam melaksanakan pembinaan yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dengan pembinaan yang terarah dan berkelanjutan, WBP diharapkan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Melalui bimbingan kemandirian otomotif, Lapas Muara Teweh terus menghadirkan pembinaan yang produktif, aplikatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Bekal keterampilan perbaikan mobil yang diperoleh warga binaan diharapkan dapat menjadi modal positif ketika mereka kembali ke tengah keluarga dan lingkungan masyarakat.

