BINTASARA.com, JAKARTA — Mayor Jenderal TNI Thevi Angandowa Zebua menapaki perjalanan panjang dalam pengabdian di TNI Angkatan Darat. Lahir di Jambi, 21 Juli 1971, Thevi merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) 1993 dari kecabangan Infanteri yang kemudian banyak menjalani penugasan di lingkungan Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Di balik tempat kelahirannya di Jambi, Thevi memiliki latar belakang keluarga Ono Niha, masyarakat asal Kepulauan Nias, Sumatera Utara. Marga Zebua melekat pada namanya dan menjadi bagian dari identitas keluarga yang mengakar dari tanah Nias.
Perjalanan kariernya memperlihatkan pengalaman yang panjang dan beragam. Ia menjalani penugasan di satuan elite Kopassus, bidang operasi, perencanaan, pendidikan dan latihan, komando kewilayahan, hingga penugasan strategis di lingkungan Mabes TNI.
Kini, Thevi memasuki babak baru pengabdiannya sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XXVII/Sobe Sonbai, Kodam baru yang membawahi wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Lulusan Akmil 1993 dan Berkarier di Kopassus
Thevi menyelesaikan pendidikan di Akademi Militer pada 1993. Setelah menempuh pendidikan militer, ia mengembangkan karier di kecabangan Infanteri dengan latar belakang Kopassus.
Kariernya kemudian berkembang di lingkungan Korps Baret Merah. Ia pernah dipercaya mengemban sejumlah jabatan penting, antara lain Kepala Penerangan Kopassus dan Waasren Kopassus.
Pengalaman tersebut mempertemukan Thevi dengan berbagai tugas yang berkaitan dengan operasi, perencanaan, komunikasi, serta pembinaan organisasi di lingkungan pasukan khusus.
Rekam jejaknya di Kopassus semakin kuat ketika ia dipercaya menjadi Asren Danjen Kopassus pada 2014–2015.
Setahun kemudian, Thevi mendapat amanah sebagai Dansat 81/Gultor Kopassus pada 2015–2016.
Penugasan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan kariernya karena Satuan 81 Gultor memiliki kemampuan khusus dalam bidang penanggulangan teror. Sebelumnya, Thevi juga tercatat pernah menjabat Danyon 812/Ban Sat 81/Gultor pada 2009–2010.
Memperluas Pengalaman di Komando Kewilayahan
Setelah menjalani berbagai penugasan di lingkungan Kopassus, Thevi memperoleh kepercayaan untuk menjalankan tugas di luar Korps Baret Merah.
Pada 2016–2017, ia dipercaya menjadi Asops Kasdam VII/Wirabuana.
Setelah itu, pada 2017–2018, Thevi mendapat amanah sebagai Danrindam XVII/Cenderawasih.
Penugasan di Papua tersebut memberikan pengalaman baru bagi Thevi dalam menjalankan fungsi komando, pembinaan satuan, pendidikan, latihan, serta tugas kewilayahan.
Setelah menyelesaikan tugas sebagai Danrindam XVII/Cenderawasih, ia kembali mendapatkan penugasan di lingkungan Mabes Angkatan Darat.
Pada 2018–2019, Thevi tercatat sebagai Pamen Denmabesad.
Selanjutnya, pada 2019–2020, ia dipercaya menjadi Pamen Ahli Danjen Kopassus Bidang Taktik Khusus Gultor.
Memimpin Pusdiklatpassus Kopassus
Perjalanan karier Thevi kembali mengarah ke bidang pendidikan dan latihan pasukan khusus.
Pada 2020–2022, ia dipercaya menjadi Danpusdiklatpassus Kopassus.
Thevi tercatat sebagai Danpusdiklatpassus pertama setelah masa validasi organisasi. Saat menduduki jabatan tersebut, ia mengalami kenaikan pangkat dari kolonel menjadi brigadir jenderal.
Sebagai Danpusdiklatpassus, pengalaman panjangnya di lingkungan satuan khusus menjadi bagian penting dalam menjalankan tugas pembinaan pendidikan dan latihan prajurit Kopassus.
Posisi tersebut sekaligus memperlihatkan perjalanan karier Thevi yang tidak hanya berkutat pada tugas operasional, tetapi juga mencakup aspek pembinaan sumber daya manusia dan peningkatan kemampuan prajurit.
Waaslat Kasad Bidang Kermamil
Setelah menyelesaikan tugas sebagai Danpusdiklatpassus, Thevi mendapat amanah baru sebagai Waaslat Kasad Bidang Kermamil pada 2022–2024.
Dalam perjalanan kariernya, penugasan ini memperluas pengalaman Thevi pada bidang pembinaan latihan dan kerja sama militer.
Jabatan tersebut menjadi salah satu tahapan penting sebelum dirinya kembali mendapatkan tugas di wilayah Papua.
Kembali ke Papua sebagai Kasdam XVII/Cenderawasih
Pada 2024, Thevi dipercaya menjadi Kasdam XVII/Cenderawasih.
Ia menjabat posisi tersebut hingga 2026. Pengalaman sebelumnya sebagai Danrindam XVII/Cenderawasih membuat penugasan di Papua bukan merupakan wilayah baru bagi dirinya.
Sebagai Kasdam, Thevi berada dalam struktur pimpinan Kodam XVII/Cenderawasih dan menjalankan tugas membantu Pangdam dalam penyelenggaraan tugas komando.
Riwayat penugasannya menunjukkan bahwa Papua menjadi salah satu wilayah penting dalam perjalanan karier Thevi, setelah sebelumnya ia menjalankan tugas sebagai Danrindam XVII/Cenderawasih. Data mengenai masa jabatan Kasdam XVII/Cenderawasih pada 2024–2026 juga tercatat dalam sejumlah profil yang terbit sebelum penugasan terbarunya.
Mayjen Thevi Angandowa Dipercaya Menjadi Pa Sahli Panglima TNI
Memasuki 2026, Thevi kembali mendapat kepercayaan untuk menjalankan tugas strategis di tingkat Mabes TNI.
Ia ditugaskan sebagai Pa Sahli Tk. III Bidang Wassus dan LH Panglima TNI.
Penugasan tersebut menempatkannya dalam lingkungan staf ahli Panglima TNI dan menjadi tahapan penting sebelum ia mendapat amanah sebagai Pangdam XXVII/Sobe Sonbai.
Sejumlah sumber mencatat Thevi mulai menjabat posisi tersebut pada Februari 2026 setelah menyelesaikan masa tugas sebagai Kasdam XVII/Cenderawasih.
Menjadi Pangdam XXVII/Sobe Sonbai
Babak baru karier Thevi berlangsung pada Oktober 2026.
Presiden Prabowo Subianto meresmikan 204 satuan baru TNI pada 5 Oktober 2026. Restrukturisasi tersebut mencakup enam Kodam baru, 30 Brigade Infanteri Teritorial Pembangunan, 150 Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan, serta tiga Batalyon Bantuan Tempur TNI AD.
Salah satu Kodam baru tersebut adalah Kodam XXVII/Sobe Sonbai di Nusa Tenggara Timur, dengan Mayjen TNI Thevi Angandowa Zebua sebagai Pangdam.
Dalam prosesi peresmian, Presiden menyerahkan tongkat komando dan bendera kesatuan kepada para Pangdam baru sebagai simbol pengukuhan kepemimpinan Kodam yang baru terbentuk.
Dengan penugasan tersebut, Thevi menjadi bagian dari sejarah awal pembentukan Kodam XXVII/Sobe Sonbai.
Tugas tersebut menghadirkan tanggung jawab baru, terutama dalam membangun struktur organisasi Kodam, memperkuat kesiapan satuan, menjalankan pembinaan teritorial, serta memastikan pelaksanaan tugas pokok TNI AD di wilayah Nusa Tenggara Timur.
Jejak Pengabdian Mayjen Thevi Angandowa di Kopassus
Jika melihat perjalanan kariernya, Thevi Angandowa Zebua telah menjalani berbagai spektrum tugas militer.
Ia pernah berada di lingkungan satuan khusus sebagai Dansat 81/Gultor Kopassus, menjalankan fungsi perencanaan sebagai Asren Danjen Kopassus, menangani bidang operasi sebagai Asops Kasdam VII/Wirabuana, mengemban tugas pendidikan sebagai Danrindam XVII/Cenderawasih dan Danpusdiklatpassus Kopassus, serta menjalankan tugas strategis sebagai Waaslat Kasad dan Kasdam XVII/Cenderawasih.
Sebelum menjadi Pangdam, ia juga menjalankan tugas sebagai Pa Sahli Tk. III Bidang Wassus dan LH Panglima TNI.
Rangkaian penugasan tersebut membentuk perjalanan panjang seorang perwira yang mengembangkan pengalaman dari tingkat satuan khusus hingga komando kewilayahan.
Kini, Thevi membawa pengalaman tersebut ke Nusa Tenggara Timur untuk memimpin Kodam XXVII/Sobe Sonbai.
Putra Berdarah Ono Niha di Panggung Kepemimpinan TNI
Bagi masyarakat Nias, sosok Thevi Angandowa Zebua juga memiliki keterikatan kultural melalui darah Ono Niha dan marga Zebua.
Kisah perjalanan seorang putra berdarah Nias yang lahir di Jambi, menempuh pendidikan militer di Akmil, kemudian berkarier di Kopassus hingga mencapai pangkat Mayor Jenderal TNI, menjadi bagian tersendiri dari perjalanan pengabdiannya.
Namun, dalam menjalankan tugas sebagai Pangdam XXVII/Sobe Sonbai, tanggung jawab Thevi mencakup seluruh masyarakat dan wilayah yang berada dalam lingkup tugas Kodam tersebut.
Pengalaman panjangnya kini memasuki fase baru. Dari satuan elite Kopassus hingga struktur komando kewilayahan, Thevi Angandowa Zebua mendapat amanah memimpin salah satu Kodam baru dalam struktur TNI AD.
Mayjen TNI Thevi Angandowa Zebua kini tercatat sebagai Pangdam XXVII/Sobe Sonbai, memimpin babak awal perjalanan Kodam baru yang membawahi wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Red

